Merokok dan Vaping dapat Memperberat Gejala Covid dan Meningkatkan Resiko Kematian

Posting : 13 Nov 2020



Data pasien covid-19 di cina : 16,9 persen yang memiliki gejala berat dan 25,5 persen pasien yang masuk ICU serta meninggal dunia adalah perokok. Perokok memiliki risiko 1,4 kali lipat memiliki gejala yang berat dan 2,4 lipat masuk ICU serta meninggal dunia dibandingkan yang tidak merokok.

Mengapa ini terjadi ? Karena asap rokok dan vape merusak cilia yang ada di saluran pernapasan. Cilia adalah bulu halus yang berfungsi menangkap dan membawa mikroorganisme dan debu sebagai perlindungan awal di saluran pernapasan.

Silia akan bergerak membawa kuman dan kotoran di saluran pernapasan dalam bentuk sekret (dahak) kearah atas untuk dibatukkan atau ditelan ke lambung.

Cilia bekerja maksimal di malam hari. Hal ini dibuktikan saat pagi hari akan lebih banyak dahak yang kita keluarkan dan lebih kental. Terutama pada orang2 yang merokok.

Merokok dan vaping akan mengiritasi saluran napas dan merusak cilia. Dindingnya Akan meradang , dahak menjadi sulit dikeluarkan, perlindungan tubuh pun akan menjadi berkurang.

"Ketika perlindungan tubuh menurun, virus dan bakteri akan mudah masuk ke saluran napas, menempel kedalam sel, dan menyebar di dalam tubuh. Sehingga bukan hanya batuk pilek saja tapi gejala sesak napas dan demam akan terjadi". Ujar dr. Jaka.

Gambar diatas adalah perbedaan paru yang sehat dan paru perokok. Paru perokok berwarna hitam. Elastisitas berkurang dan rapuh. Sehingga bila terinfeksi virus Corona, gejalanya akan lebih berat dan sulit tertolong. Meskipun dengan alat ventilator.